Perkembangan dan Inovasi aplikasi berbasis komputasi awan (cloud computing)

Teknologi berbasis komputasi awan (cloud) merupakan salah satu sektor dibidang teknologi informasi yang memiliki pengaruh signifkan dalam bidang ekonomi seperti terlihat pada gambar berikut :

Ilustrasi

 

Hal tersebut sangat dimungkinkan dikarenakan perkembangan teknologi lain sebagai penyokong komputasi awan juga meningkat dengan signifikan. Kecepatan transfer data yang semakin cepat dan didukung perangkat keras yang semakin canggih baik di sisi client maupun di sisi server.

Dengan adanya komputasi awan, para pengguna tidak perlu khawatir dengan keterbatasan perangkat dan ruang dan waktu. Segala aktifitas dan pemrosesan data dapat dilakukan dimana saja asalkan terhubung ke penyedia layanan komputasi awan. Pada 5 sampai 10 tahun yang lalu mungkin kita masih terbatas dengan aplikasi pengolah kata yang dipasang pada komputer pribadi (PC), dan jika akan melakukan perubahan harus mencari komputer yang memiliki aplikasi pengolah kata tersebut dan data harus ditransfer terlebih dahulu. Akan merepotkan bukan? Belum lagi dengan resiko kehilangan data dan terjangkit virus.

Para penyedia layanan berbasis komputasi awan belakangan ini juga berlomba-lomba menyedikan layanan yang semakin cepat dan aman serta mudah digunakan di berbagai kalangan. Salah satunya adalah Microsoft yang mengeluarkan Office 365. Inovasi Office 365 salah satunya. Layanan berbasis cloud paling lengkap yang diciptakan Microsoft ini terdiri atas empat produk, yaitu Office, Lync, Share Point, dan Exchange. Layanan ini secara lebih lanjut digunakan untuk menandingi layanan sejenis yang dibuat sebelumnya oleh Google yaitu google docs yang sekarang berubah menjadi Google Drive. (http://tekno.tempo.co, 2014)

Google merupakan sebuah perusahaan yang sangat cepat berkembang dalam memberikan inovasi kepada penggunanya. Google Docs adalah salah satu aplikasi pengolah dokumen yang mampu menggantikan aplikasi standalone seperti microsoft office, libre office dan openoffice serta semacamnya. Dengan menggunakan google docs, para pengguna tidak khawatir lagi dengan file yang terkena virus, data yang hilang dan sistem operasi tertentu. Pengguna dapat menulis dokumen hanya berbekal web browser dan koneksi internet. Data akan disimpan di server google dan pengguna bisa melakukan modifikasi dimana saja tanpa harus memasang aplikasi pengolah dokumen.

Seiring berkembangnya waktu, google juga melakukan inovasi yang signifikan dalam layanan komputasi awannya, tidak hanya pengolah dokumen, juga memiliki kemampuan mengolah spreadsheet dan presentasi. Google docs berubah menjadi google drive dimana aplikasi ini selain digunakan sebagai pengolah dokumen, juga memiliki kemampuan untuk menyimpan data-data di komputer lokal dan menyimpan di server google. Baik berupa dokumen, gambar, direktori, zip dan lain sebagainya. Dan untuk beberapa tipe file tertentu, google drive memiliki kemampuan memodifkasi secara “on-the-fly” tanpa perlu menambahkan plugin atau aplikasi tambahan.

Berbagai inovasi yang diterapkan oleh google, tidak lain dan tidak bukan juga dikarenakan aplikasi berbasis komputasi awan sejenis yang lebih dahulu muncul yaitu Dropbox. Dropbox muncul di sekitar tahun 2010 dimana menghadirkan layanan sinkronisasi data secara online. Dropbox memberikan kemudahan dalam proses sinkronisasi, pengguna cukup melakukan instalasi pada PC dan akan muncul direktori/folder dropbox. Cukup letakkan file yang akan di sinkronkan ke server dropbox ke dalam folder tersebut dan data akan diunggah ke server jika komputer terhubung ke internet. Pengguna juga dapat memodifikasi secara langsung file dalam folder dropbox pada PC mereka, dan secara otomatis akan dilakukan pe-nyingkron-an terhadap file tersebut. Bahkan data dapat di kembalikan ke versi sebelumnya jika memang dibutuhkan. Dan dropbox memiliki kemampuan sharing data sesama pengguna untuk membagikan file secara langsung, sehingga transfer file secara fisik dapat dikurangi. Keunggulan Dropbox dibandingkan Google Drive adalah dropbox memiliki versi aplikasi di Sistem Operasi kebanyakan yaitu Linux, OS X dan Microsoft Windows, sedangkan Google Drive belum memiliki aplikasi di sisi client Linux.

Sepak terjang aplikasi ini terbilang istimewa. Tidak seperti OneDrive dan Google Drive yang dibentuk oleh raksasa digital, Dropbox berawal dari sebuah aplikasi perintis yang dibentuk oleh sejumlah pemodal, yaitu Sequoia Capital, Accel Partners, dan Amidzad, pada 2009. Meski tidak berada di balik suatu nama besar, pencapaian Dropbox sangat baik.

Pada awal 2013, Dropbox dilaporkan berkontribusi sebesar 0,29 persen dari total trafik Internet global. Kini total pengguna Dropbox di seluruh dunia mencapai 294 juta. (http://tekno.tempo.co/, 2014)

Kesimpulan

Dari ketiga aplikasi berbasis cloud tersebut di atas, kita dapat melihat setiap aplikasi berbasis teknologi informasi pastinya harus memiliki inovasi-inovasi sesuai dengan perkembangan teknologi yang melingkupinya. Baik dari sisi klien mauooun sisi server. Hal ini agar produk mereka tidak teringgal dan ditinggalkan oleh pengguna. Semakin banyak pilihan aplikasi yang disediakan, semakin selektif pula pengguna dalam memilih aplikasinya. Setiap penyedia layanan dan aplikasi harus melihat celah yang ada dalam layanannya dan layanan pesaing. Setiap celah bisa menjadi peluang bagi suksesnya siklus hidup aplikasi tersebut. Sudah banyak bukti aplikasi yang mulai ditinggalkan penggunanya dan menjadi mati seperti friendster, koprol, yahoo maps merupakan beberapa layanan yang gagal berkembang. Bahkan google pun pernah gagal dalam mengembangkan layanan yang dibuatnya seperti google buzz dan google wave serta ditutupnya google reader akhir-akhir ini.